Tampilkan postingan dengan label Tsaqafah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tsaqafah. Tampilkan semua postingan

Amanah


Perlu diingat bahwa menjaga kepercayaan (amanah) lebih sulit dari mencarinya. Maka tetapkan hati pada amanah yang telah Allah berikan kepada kita, tekadkan jiwa untuk menjaga amanah dari manusia. Berhati-hatilah dengan amanah dari manusia karena boleh jadi amanah itulah yang akan menghantarkan kita kejurang neraka.


Teringat kejadian tahun 2008 silam saat menjabat sebagai ketua Tim Tutorial PAI UNY, karena tulisan “amanah” dalam surat keterangan pengurus Tutorial yang dibuat untuk keperluan kerja sempat tidak ditanda tangani oleh Pembantu Rektor 1 (sekarang Rektor UNY). Itulah birokrasi yang berbeda memaknai sebuah arti jabatan, bagi aktifis dakwah jabatan adalah sebuah amanah yang akan dipertanggungjawaban dihadapan Allah swt. Memang sih ini murni kesalahan sekretarisku karena menulis kata "amanah" sebagai ganti "jabatan" dalam surat formal.

“Sesungguhnya Kami menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung. Namun mereka menolak dan khawatir untuk memikulnya. Dan dipikulah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim lagi amat bodoh.” (Al-Ahzab : 72)

Amanah adalah tuntutan iman. Dan khianat adalah salah satu ciri kekafiran. Sabda Rasulullah saw. ”Tiada iman pada orang yang tidak menunaikan amanah; dan tiada agama pada orang yang tidak menunaikan janji.” (HR. Ahmad dan ibnu Hibban).

Barang siapa yang hatinya kehilangan sifat amanah maka ia akan menjadi orang yang mudah berdusta dan khianat. Dan barang siapa yang memiliki sifat dusta dan khianat, dia berada dalam barisan orang-orang munafiq. Disia-siakanya amanah merupakan salah satu tanda-tanda datangnya hari kiamat.

Rasulullah bersabda ;

Jika amanah diabaikan maka tunggulah kiamat.” Sahabat bertanya, ”bagaimanakah amanah itu disia-siakan, wahai Rasulullah? ” Rasulullah menjawab, ”Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancuran.” (HR. Bukhori)

Macam-macam amanah

Pertama, amanah fitrah. Allah swt menjadikan fitrah manusia cenderung kepada tauhid, kebenaran, dan kebaikan. Akan tetapi adanya fitrah bukanlah jaminan bahwa setip orang akan selalu berada dalam kebenaran dan kebaikan. Sebab fitrah bisa saja terselimuti kepekatan hawa nafsu dan penyakit-penyakit hati. Untuk itulah manusia harus memperjuangkan amanah fitrah tersebut agar tetap menjadi kekuatan dalam menegakkan kebenaran.

Kedua adalah amanah taklif syar’i (amanah yang diembankan oleh syari’at). Allah swt. telah menjadikan ketaatan terhadap syari’atnya sebagai batu ujian kehambaan seseorang kepada-Nya. Allah akan melihat ketaatan hamba-Nya dalam melaksanakan syari’at yang telah Allah tetapkan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Ketiaga, amanah dakwah. Selain melaksanakan ajaran Islam, seseorang muslim memikul amanah untuk mendakwahkan (menyeru) manusia kepada kalimat tauhid. Seorang muslim bukanlah orang yang merasa puas dengan keshalihan dirinya sendiri. Ia akan terus berusaha untuk menyebarkan hidayah Allah kepad segenap manusia.

Rasulullah saw bersabda;, ”Jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan usahamu, maka hal itu pahalanya bagi mu lebih baik dibandingkan dengan dunia dan segala isinya”. (al-hadits)

Yang terakhir adalah amanah tafaqquh fiddin (mendalami agama) sebagaimana Allah swt menjelaskan dalam firman-Nya :

”Tidaklah sepatutnya bagi orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.” (QS. At-Taubah : 122).

Ikhwah fillah,

Perlu menjadi evaluasi bersama, bahwa amanah itu bukan hanya sesuatu yang bersifat hubungan vertikal kepada Allah yang akan dipertanggungjawabkan di hari akhir saja akan tetapi amanah yang bersifat hubungan horizontal kita kepada sesama manusia pun perlu kita perhatikan. Bagi kita yang diberi kepercayaan memimpin organisasi, maka yakinkan bahwa itu adalah amanah yang akan diminta pertanggung jawaban dihadapan manusia dan dihadapan Allah. Seorang mahasiswa amanahnya adalah menuntut ilmu yang akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah dan orang tuanya sebagai saksi didunia.

Bentuk pertanggung jawaban kita kepada sesama manusia harus dilakukan secara profesional. Begitu jua pelaporan amanah kita pada orang tua bagi mahasiswa harus bisa berwujud ijazah atau sertifikat dan dapat dirasakan oleh mereka. Kalau pun aktivitas kuliah kita berupa dakawah, maka itupun mesti ada ijazah atau sertifikatnya dan harus merekapun merasakan hasil dari dakwah itu. Perlu dingat bahwa menjaga kepercayaan (amanah) lebih sulit dari mencarinya. Maka tetapkan hati pada amanah yang telah Allah berikan kepada kita, tekadkan jiwa untuk menjaga amanah dari manusia. Berhati-hatilah dengan amanah dari manusia karena boleh jadi amanah itulah yang akan menghantarkan kita kejurang neraka.

Dipenutup tulisan ini, mari kita renungkan kembali sebuah hadist dibawah ini. Semoga kita senatiasa diberikan kekuatan dalam menjalani amanah yang telah diembankan kepada manusia.

”Setiap kalian adalah pemimpin dan karenanya akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Amir adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka. Lelaki adalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang itu. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.” (Muttafaq ’Alih)

Topeng


Topeng merupakan suatu alat yang digunakan manusia untuk menyembunyikan wajah aslinya. Dengan topeng itu seseorang dapat menyetel bentuk wajah yang ingin ditampilkannya. Ada wajah sedih, pucat, murung yang disertai wajah memelas untuk memdapati simpati dan belas kasihan orang lain, ada juga wajah seram, bengis, sombong dan sok berwibawa saat operasi tilang kendaraan bermotor. Beda lagi pada saat menjelang pemilihan umum, para politisi pasang wajah yang ceria dan senyum sumeringah serta tebar pesona. Laksana dunia perfilman, orang pun tertipu dengan acting yang mempesona.

Didalam dunia kejahatan, para perampok biasa menyembunyikan wajah aslinya di balik topeng. Hingga orang pun bisa salah menduga, karena pelaku kejahatan seperti itu biasanya orang dekat korban, keluarga atau orang dalam.

Diera sekarang ini setiap manusia hampir semuanya menggunakan topeng, topeng ini tergolong canggih karena ia tidak terlihat dan bahkan penggunanyapun terkadang tidak mengetahui kalau ia sedang menggunakan topeng. Karena siapapun tidak bisa membedakan apakah seseorang sedang bertopeng atau tidak.

Kita pun mengira seseorang begitu ramah, padahal ia pemarah. Kita mengira seseorang sedang berjuang, padahal ia sedang cari popularitas. Kita mengira seseorang begitu dermawan, padahal ia pencuri ulung kesempatan. Kita mengira seseorang pembela rakyat kecil, padahal ia pemeras darah rakyat. Dan bahkan kita mengira ia sedang berdakwah, padahal ia sedang mencari kesempatan untuk berkuasa.

Ketika topeng digunakan untuk menyembunyikan dari perilaku buruknya, Islam menyebutnya munafik. Allah swt. mengancam para pengguna topeng seperti ini “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapatkan penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisaa: 145)

Berhati-hatilah dengan topeng. Karena tanpa topeng pun, manusia sebenarnya sudah terbiasa memakai topeng.

Doa' Jibril

Hadis Riwayat Bukhori Muslim dari Huzaifah dan Annas ra

Suatu ketika di malam hari raya iedul fitri seperti biasanya Rasul dan para sahabat membaca Takbir,Tahmid dan Tahlil di Masjidil Haram. Saat sedang bertakbir, tiba- tiba rasulallah keluar dari kelompok dan menepih kearah dinding. Kemudian Rasullah mengangkat kedua tangannya ( layaknya orang berdoa ) saat itu Rasul mengatakan amin sampai tiga kali.

Setelah Rasul mengusapkan kedua tangan diwajahnya ( layaknya orang selesai berdoa ) para sahabat mendekat dan bertanya : Ya Rasul apa yang terjadi sehingga engkau mengangkat kedua belah tanganmu sambil mengatakan amien sampai tiga kali ?

Jawab Rasul : Tadi saya didatangi Jibril dan meminta saya mengaminkan doanya.?

Apa gerangan doa yang dibacakan Jibril itu ya Rasul ? tanya sahabat kemudian Rasul menjawab : Kalau kalian ingin tahu inilah doa yang disampaikan Jibril dan saya mengaminkan?
  1. Ya Allah ya Tuhan kami Janganlah diterima amal Ibadah kaum Muslimin selama bulan Ramadhan apabila dia masih bersalah kepada orang tuanya dan belum dimaafkan?. Rasul mengatakan Amien
  2. Ya Allah ya Tuhan kami Janganlah diterima amal ibadah kaum muslimin selama bulan Ramadhan apabila suami isteri masih berselisih dan belum saling memaafkan.? Rasul mengatakan amien
  3. Ya Allah ya Tuhan kami janganlah diterima amal Ibadah kaum Muslimin selama bulan Ramadhan apabila dia dengan tetangga dan kerabatnya masih berselisih dan belum saling Memaafkan.? Rasul mengatakan amien
Demikianlah doa yang dibaca Jibril sehingga Rasul mengaminkan sampai tiga kali. Namun disini ada 4 Faktor yang membuat doa tersebut pasti dikabulkan Allah yaitu:
  1. Yang berdoa Jibril Mahluk yang sejak diciptakan tidak pernah membantah dan berbuat dosa kepada Allah
  2. Yang mengaminkan doa tersebut Muhammad manusia Ma?sum yang telah diampuni semua dosanya
  3. Tempat berdoa adalah Masjidilharam tempat yang mendapat berkah dari Allah
  4. Waktu berdoa adalah malam iedul fitri yaitu satu diantara sepuluh malam jika kita berdoa langsung di ijabah oleh Allah.
Jadi jika kita ingin Amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini diterima Allah maka hindarilah tiga yang diatas. Karena selama tiga persoalan diatas belum diselesaikan maka amal ibadah kita selama bulan ramadhan masih dipending oleh Allah sampai kita menyelesaikannya.

Belaian Ibu

Naluri keibuan amat mendalam
Jiwa insan yang mendambakan kebahagiaan

Oh… Ibu
Dibahumu tegaklas beban
Perjalananmu penuh rintangan
Kau titipkan kasih sayang
Sejujur pengorbanan
Tak ku nafikan…

Disaat kita berjauhan
Rasa ingin ku berlari
Mendakapimu penuh girang
Masih kecil kehilangan

Kau insan penyang
Betapaku merindu
Lembutnya belaian ibu
Membuatku terlena ...

Diwajahmu berolah tenang
Debar didada kau rahasiakan
Ku pastikan dikau aman
Di dunia sejahtera
Tak kulupakan ...

Tiada aku tanpa ibu
Hanya kau satu di dunia
Bertahta dikau dijiwaku
Kaulah ibu yang tercinta

Kau insan pengasih
Betapaku mengharap hadirnya restumu ibu
Membawaku kesyurga

Bersemi ...
Belaian kasih sayang nan berpanjangan
Dari mu insan yang mendoakan kebahagiaan anak-anakmu
Oh Ibu....

Keikhlasan di jalan Dakwah

“Siapa yang paling berjasa dalam Dakwah ???”


Dari Abdullah Bin Zaid, bahwa Rasulullah saw., saat menaklukkan Hunain, membagi-bagikan ganimah (harta pampasan perang). Beliau memberi orang-orang yang hatinya sedang dijinakkan (muallafatu qulubuhum). Lalu sampai (berita) kepada beliau bahwa orang-orang Anshar pun ingin memperoleh apa yang diperoleh orang lain. Maka bangkitlah Rasulullah saw. berkhutbah seraya memuji dan menyanjung Allah lalu mengatakan, “Wahai segenap orang Anshar, bukankah dahulu aku menemukan kalian dalam keadaan tersesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian dengan perantaraanku; kalian papa lalu Allah memberi kalian kecukupan dengan perantaraanku; kalian terpecah-belah lalu Allah mempersatukan kalian dengan perantaraanku?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nyalah yang paling banyak jasanya.” (Shahih Muslim juz II: 738)

Kemenangan yang diraih dalam perjuangan dapat menggoda sebagian orang untuk mengklaim-baik secara eksplisit maupun implisit– bahwa dirinyalah yang paling berjasa untuk kemenangan itu. Atau, kalaupun bukan merasa yang paling berjasa, paling tidak mengklaim bahwa dirinya berada dalam jajaran orang-orang berjasa. Dan karenanya, jama’ah dakwah diuntungkan dan berhutang jasa terhadap dirinya. Dalam perasaannya, wajar-bahkan ada yang menganggap harus-bila jam’ah dakwah memberikan kompensasi-kompensasi atas perjuangannya itu.

Tampaknya perasaan semacam itu manusiawi. Buktinya hal itu pernah pula terjadi pada masyarakat Islam terbaik yakni generasi sahabat Rasulullah saw. Hadits yang tertulis di atas adalah bagian dari nasihat yang disampaikan Rasulullah saw. kepada kaum Anshar. Secara lebih lengkap, Ibnu Hisyam dalam kitab sirahnya mencatat sebagai berikut:

Berawal dari cara Rasulullah saw. membagi-bagikan ganimah (harta rampasan perang) Hunain. Beliau membagi justru kepada orang-orang yang baru masuk Islam pada saat penaklukan Makkah (Fathu Makkah), yang notabene belum banyak perngorbanannya. Bahkan pada perang Hunain itu justru merekalah yang pertama lari tunggang-langgang saat mendapat gempuran awal dari musuh. Sedangkan orang-orang yang sudah sejak awal turut berjuang dan malang-melintang dalam kancah jihad, kaum Anshar, tidak mendapatkan sedikit pun dari ganimah itu. Sampai-sampai seseorang dari kalangan Anshar berkata kepada sesama mereka, “Sekarang Rasulullah saw. sudah bertemu dengan kaumnya.”

Desas-desus itu akhirnya sampai kepada Rasulullah saw. Beliau kemudian meminta pimpinan mereka, Sa’ad Bin Ubadah untuk mengumpulkan seluruh kaum Anshar itu di satu tempat. Setelah berkumpul, Rasulullah saw. datang untuk menasihati mereka. “Apa desas-desus yang berkembang di tengah-tengah kalian? Apa perasaan-perasaan yang ada di hati kalian terhadapku?” kata Rasulullah membuka khutbah, setelah bertahmid dan menyanjung Allah swt. “Bukankah aku datang kepada kalian dalam keadaan kalian tersesat lalu Allah memberi kalian petunjuk? Kalian miskin lalu Allah memberi kalian kecukupan? Kalian bermusuhan lalu Allah memadukan hati kalian?” Mereka mengatakan, “Benar, Allah dan Rasul-Nyalah yang paling berjasa dan paling utama.” Rasulullah saw. melanjutkan, “Wahai kaum Anshar, mengapa kalian tidak menjawabku?” Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, dengan apa kami menjawab engkau? Allah dan Rasul-Nyalah yang paling berjasa dan paling utama.” Rasulullah saw. mengatakan, “Demi Allah, kalau kalian mau pasti kalian mengatakan –dan kalian pasti berkata jujur dan dapat dipercaya: ‘Engkau datang kepada kami, wahai Rasulullah, dalam keadaan didustakan lalu kami mempercayai engkau. Engkau datang dalam keadaan dihinakan lalu kami membela engkau. Engkau datang kepada kami dalam keadaan terusir lalu kami melindungi engkau. Engkau datang kepada kami dalam keadaan sengsara lalu kami membantu engkau’. Wahai kaum Anshar, apakah hati kalian lebih mencintai kemilau dunia yang dengannya aku menjinakkan hati sebagian orang agar teguh dalam Islam padahal aku mengandalkan kalian pada keislaman kalian?” Dan pada akhirnya kaum Anshar menyadari kekeliruan mereka dalam memposisikan diri mereka dan memandang Rasulullah saw. Mereka menangis sejadi-jadinya hingga janggut-janggut mereka basah dengan air mata seraya mengatakan, “Kami puas dengan Rasulullah saw. sebagai bagian kami.”

Rasulullah saw mengingatkan kepada kita bahwa manakala kita mendapat hidayah Allah SWT untuk masuk dalam barisan Islam, menjadi prajurit Allah, lalu melakukan perjuangan dan pengorbanan untuk Islam, maka sesungguhnya itu bukanlah jasa kita untuk perjuangan Islam. Melainkan justru jasa dan karunia Allah kepada kita sekalian. Tanpa hidayah Allah itu kita hanya akan menjadi manusia dengan kualitas benda mati semacam kayu (khusyubum-musannadah), bahkan bagaikan binatang ternak (kal-an’am). Dan tanpa terlibat dalam perjuangan, kita hanya akan menjadi orang-orang yang tidak punya apa pun untuk menjawab pertanyaan Allah swt. saat kita menghadap-Nya: apa yang telah kau lakukan di dunia?

Sungguh, perjuangan kita untuk menegakkan Islam di muka bumi ini sama sekali bukan jasa untuk Allah swt. Karena Dia, tanpa bantuan manusia, mampu menegakkan Islam dengan tangan-Nya sendiri. Dan Allah tidak mendapat keuntungan sedikit pun dari ketaatan manusia. Sebaliknya Dia juga tidak rugi sedikit pun bila seluruh manusia ingkar pada-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak membutuhkan) sekalian alam. Dan firman-Nya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (Adz-Dzariyaat: 56-58)

Bukan pula perjuangan kita untuk membela dan menguntungkan Rasulullah saw. Karena, pertama kita sudah jauh dari masa hidup Rasulullah saw. Dan kedua, para sahabat yang nyata-nyata terlibat dalam perjuangan dan pengorbanan bersama Rasulullah saw. saja pun hakikatnya bukan membela Rasulullah saw. Karena tanpa bantuan kaum Muslimin pun Rasulullah saw. sudah nyata-nyata dibela oleh Allah swt. Kepada para sahabat yang habis-habisan membela dan berjuang untuk Islam bersama Rasulullah saw. itu Allah swt. berfirman: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 40)

Lalu, apakah perjuangan dan pengorbanan kita menguntungkan Islam? Islam tanpa kita, akan ada orang lain yang memperjuangkannya. Allah swt menegaskan hal itu dengan ayat-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Maidah: 54)

Rasulullah saw. pun bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menegakkan kebenaran tanpa terganggu oleh orang yang menghinakan dan menentang mereka, hingga datang kemenangan dari Allah dan mereka tetap dalam keadaan demikian.” (Muslim)

Jadi harus kita sadari, sesungguhnya segala yang kita lakukan dalam perjuangan dengan segala macam bentuk pengorbanan adalah jasa kita untuk diri kita sendiri dan itu merupakan Hidayah terindah yang Allah berikan kepada kita. Sebab, setiap kita hanya akan memperoleh apa yang kita lakukan di dunia. “Dan seseorang tidak akan memperoleh selain dari apa yang telah dia usahakan.” Iman, hijrah, jihad dengan harta dan jiwa, itulah yang akan menghantarkan kita menjadi orang yang sukses sejati, sebagaimana yang Allah jelaskan: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (At-Taubah: 20). Allahu a’lam


IMAN DAN ISTIQAMAH

Iman

Secara bahasa, kata “iimaan” berasal dari kata kerja “amina” yang berarti aman, tenang, dan tidak merasa takut. Dari sana muncul kata “aamana” yang berarti “menjadikan tenang”, “percaya”, dan “membenarkan”. Kata “aamana” inilah ysng kemudian melahirkan istilah “iman” ( Al Mu’jam Al Wasiith)

Para ulama’ menyimpulkan Iman itu adalah tashdiiqul bi al janaan (pembenaran dalam hati), ikraar bi al lisaan (pernyataan dengan lisan) dan ‘amal bi al arkaan (tindakan dengan anggota badan)

Istiqamah

Suatu ketika Muazd bin Jabal menghadap Rasulullah Saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, katakana kepadaku tentang Islam yang saya tidak mendapatkannya dari yang lain”

Beliau menjawab, “Katakan, aku beriman kepada Allah, lalu istiqomahlah.”

Ikhwah,

Sikap istiqomah dalam keimanan telah ditampakkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat beliu tatkala menjalani kehidupan yang penuh tantangan sejak dari Makkah hingga Madinah. Mereka tidak goyah oleh rayuan, tidak mundur oleh tekanan, tidak gamang oleh cercaan, tidak luntur oleh godaan, tidak menyerah atas ancaman serta mereka tetap tersenyum dan selalu optimis atas kemenangan Islam yang telah Allah janjikan.

Allah Swt. berfirman,

Alif lam mim, apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, “Kami telah beriman,”sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar (keimanannya) dan Dia mengetahui orang-orang yang dusta. ( QS.Al Ankabut:1-3)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar (QS.Al Hujurat:15)

Ikhwah,

Sungguh begitu berat untuk bersikap istiqomah demi mempertahankan Iman, hingga Allah pun memberikan janji kepada siapapun yang beriman dan konsisten dalam keimanannya.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian (istiqamah) maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) “janganlah kamu merasa takut, jamganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta.” (QS.Fushilat: 30-31)

1. Keberanian (Asy Syajaa’ah)

Orang-orang yang beriman dan istiqamah dalam iman akan muncul sikap berani menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Terhapuslah sifat kepengecutan dalam setiap orang yang konsisten mempertahankan iman, karena Allah menurunkan malaikat yang menjaga dan membisikan, “janganlah kamu merasa takut.” Mereka tidak takut hidup dengan segala risiko kehidupan, sebagaimana mereka tidak takut kematian.

2. Ketenangan (Ath Thuma’ninah)

Shabat,

Yakinlah Allah Swt akan memberikan ketenang jiwa kepada orang-orang yang konsisten dengan keimanannya. Mereka tidak dilip[uti oleh perasaan sedih, gelisah dan ketidak pastian, sebab malaikat menjaga mereka dengan membisikan, ”janganlah kamu merasa sedih.” Hilanglah kesedihan dan kesusahan hingga muncullah kegembiraan menghadapi realita kehidupan.

3. Optimisme (At Tafaa’ul)

Shabat perjuangan,

Keistiqamahan seseorang dalam keimanan menyebabkan seseorang bersemangat mengaharungi samudara kehidupan, mereka optimis menjalani hari-hari karena Allah Swt telah menjanjikan kenikmatan yang hakiki.

Tarbiyah Nukhbawiyah

Tarbiyah nukhbawiyah adalah kelanjutan dari tarbiyah jamahariyah (kaderisasi massa) yang saling melengkapi dan tidak boleh dipisah antara satu dengan yang lainya. Tarbiyah nukhbawiyah adalah kaderisasi yang difokuskan kepada orang-orang tertentu hasil rekruting massa, bertujuan untuk mempersiapkan para da’i dan murobbi di tengah-tengah masyarakat dan untuk masyarakat. Sehingga acuan pada tarbiyah nukhbawiyah ada pada kualitas kader bukan pada kuantitasnya.

Tarbiyah nukhbawiyah bertujuan meningkatkan berbagai kemampuan dan keahlian kader agar dapat berperan dalam mengendalikan dan merekrut massa, di bidang tarbiyah, da’wah, harokah dan siasah dan untuk menyiapkan masyarakat agar dapat melaksanakan peranannya dalam gerakan reformasi dan perubahan.

Tidak semua orang harus mengikuti tarbiyah nukhbawiyah atau dipaksakan, karena potensi, kemampuan dan kesiapan manusia tidak sama dan tidak semua orang memiliki kesipan menjadi aktifis da’wah. Pandangan yang jauh kedepan, kejernihan hati, bijak, sabar, mencintai orang lain dan bersemangat membimbing mereka selain tawakal kepada Allah, ikhlas hanya menginginkan balasan dari Allah ialah sifat-sifat yang harus dimiliki para da’i, membuat sesuatu yang dibenci menjadi disenangi, yang jauh menjadi dekat dan lawan menjadi kawan.

Tutorial


An unforgetble moment when I was a ADK in one of Education University of Yogyakarta keep in my heart. I joined Tutorial in 2005 than I was a head of departement this organzation in Technique Faculty. One year later I 've been a head master this Faculty. In 2008 I've been a head master in Yogyakarta State University. Now...

Thank you for all Tutor who have given anything. I can't tell all its. You are a hero who have given all time, property, and think for dakwah. You're not studying and teaching but you're growing up a best civilization. May Allah bless you in the next life.

For the next generation : keep to do the best..., I know you can do it...,
you can get your big dreams.

Dewasa

Maturity is sense of giving, sense of sharing and sense of caring.

Ketika berusia sekitar 4 – 6 tahun saya mempunyai kebiasaan yang sangat menarik yang hingga saat ini tetap terkenang. Karena ayah saya perangkat desa hampir setiap pekan ada tamu yang datang berkunjung kerumah baik hanya sebatas silaturahim maupun membahas urusan kantor. Setiap ada tamu saya selalu berusaha “cari perhatian” bertingkah yang aneh-aneh, minta ini dan itu dan banyak lain yang dilakukan hingga membuat jengkel orang tua. Ada perasaan bahagia ketika melihat orang tua melayani layaknya seorang pelayan karena bila tidak dituruti saya menggunakan jurus yang sangat ampuh yaitu ngambek dan menangis….he…he…he…

Saya kira hal yang wajar itu dilakukan oleh anak kecil yang sedang cari perhatian. Tapi menjadi hal yang ‘wagu’ kalau hal tersebut dilakukan orang dewasa.

Diera sekarang ini, dakwah kampus dituntut untuk bersikap dewasa dalam menghadapi tantangan, idealis dalam menentukan kebijakan dan siap menerima realita kehidupan. Dewasa itu pilihan, ia tidak identik dengan usia. Kedewasaan itu identik dengan kemampuan; kemampuan untuk memberi (The Power of giving); kemampuan untuk berbagi (the Power of sharing) dan kepedulian (The Power of Caring).

Kita tidak mungkin dapat memberi kalau kita masih menjadi ’pengemis’. Kita tidak akan bisa berbagi kalau kita ‘miskin’ dan mana mungkin kita dikatakan orang yang peduli terhadap kondisi bangsa kalau kita masih menjadi ‘beban’. ADK tidak sepantasnya masih menjadi pengemis; mengemis pada orang tua atau mengemis pada budaya. Bukan zamannya kalau ADK itu miskin; miskin ilmu agama dan teknologi, miskin strategi atau miskin wibawa dan integritas sebagai ADK. Saatnya ADK itu menjadi solusi bagi kehidupan bangsa dan jangan menjadi beban orang tua, ‘jamaah’ dan bangsa.

Remember…

Our dream is be solution this country problem. We can’t do it if we have many problems. It's our academic, our spirit or our body. So, ADK have to have power of body, high motivation and Of course he must smart.